23/11/10

Siapakah Dirimu?

Siapakah sebenarnya kau,
duhai insan Tuhan
Kau menelusup di seluruh
belahan diriku
Bersembunyi di setiap sudut
persendianku
Berenang lincah bersama
aliran darahku
Seakan kau tak akan pergi
dari diriku
Siapakah sebenarnya kau,
duhai insan Tuhan
Ketika ingin ku pejamkan
mata
Kau hadir dengan senyum
manismu
Mengisi di setiap titik
anganku
Namun jika ku membuka mata
dan terjaga
Kau menari dihadapanku
Bagaimana aku harus
bertindak ?
Saat-saat
Setiap waktu
Detik
Menit
Jam
Kau seakan peluk erat diriku
Tak dapatkah aku lepas dari
bayangmu ?
Siapakah sebenarnya kau,
duhai insan terkasih
Walau hadir hanya dalam
alam bawah sadarku
Kau telah menyisakan seribu
bayang
Yang tak akan punah meski
semua berlalu
Kau juga menorehkan
sebuah rasa
Yang tak dapat aku mengerti
Cintakah ? Rindukah? Ku tak tahu?

Rupa Elok Nurani Indah

Sempurna hanya memang milik-Nya
Semakin ku akui keagungan-Nya melalui keindahan Ciptaan-Nya
Nikmat hidup yang diberikan-Nya
Panorama alam ciptaan-Nya
Semua keagungan serta karunia-Nya
Dan saat ini limpahan karunia dari-Nya kaum hawa yang paripurna sebagai manusia

Keelokan-rupamu untuk ku syukuri
Kebaikan hatimu untuk ku semakin mengertimu
Kemandirianmu untuk ku kagumi
Kepandaianmu untuk ku pelajari
Kelebihan-kelebihanmu untuk ku imbangi
Jika pun ada kelemahanmu untuk ku pahami

R upamu
E lok
N uranimu
I ndah

N ur dari-Nya
U ntukku melengkapi hidupku
R agawinya yang indah
L antunan suara yang merdu
E ngkaulah yang slalu menghipnotis hari"ku
L angkahmu yang slalu berjalan dalam lorongku
A langkah sempurnanya hidupku akan hadirmu

Finally I Found You

Says thank's alhamdulilah to Allah SWT
One more the miracle of life had been showen
Something unvisible by eye
Something untouchable by hand
Something unmeasurable by ruler
Something can only feel with soul

When Allah show his power
Then I can't refuse it
By His hand
Be united the two different hearts

When seagull came home or when the sun shy for meet with the moon
My body is weak
My soul is collapse
But your shadow awakened me to stride
For me to keep up on move, move & move

Long distance
Couple body far away
But your soul & shadow always dance
As if it don't wanna released from my mind

Jiwa ini samudera
Samudera yang dialiri air dari satu sungai
Sungai yang dialiri tetesmu
Tetes yang sejuk bak air dari himalaya
Dingin sampai ke tulang
Menelisik ke ujung saraf


Tahukah engkau akan kekuatan cinta
Kekuatan yang membuat Tembok China berdiri megah
Sang Adam melintasi negara untuk Sang Hawa dengan kaki telanjang
Atau sang singa si raja hutan yang kuat dan kejam tetapi bertekuk lutut untuk sang betina

Aku bukan Kaisar China atau Sang Adam atau singa si raja hutan
Aku hanya insan biasa yang tak akan jatuh cinta padamu
Tapi akan kubangun cinta bersamamu

Anjeun sijantung hate
Anu mawa guligah hate
Anu janten bebende hate
Anu janten simpay katresna

Mugia anjeun moal ingkah balilahan
Moal gedag kaanginan
Nitip ieu qalbu mugia dijagi ku rasa kadeudeuh...

Hipotesa Hati

Pertemuan singkat?
Siapakah engkau yang datang tiba-tiba mengetuk pintu
Melenakan, membasuh ladang,
Ladang ilalang yang sempat gersang beberapa musim lalu
Ladang yang dipenuhi algoritma logika

Siapakah aku?
Tak dapat kujawab pertanyaanku sendiri
Awalnya tak dpt kutulis satu katapun
Tak dapat pula kurangkai kalimat
Ataupun bait tentangmu
Semua terasa kecil, sempit untukku bercerita tentang elokmu

Bukan karena berapa lama kebersamaan kita
Bukan karena sejauhmana jalan yang t'lah kita tempuh
Ataupun episode yang t'lah kita perankan
Tapi sejauhmana catatanku tentangmu disamuderaku

Tak dapat kukeluarkan bujuk rayu
Pujian manis atau tentang elokmu
Tapi cobalah menyelam ke dasar samuderaku
Disana tertulis memori dan mozaik tentangmu

Jalan yang t'lah dilewati memang pendek
Tapi aku sendiri tak tahu ada yang t'lah mencatatkan namamu dalam jalanku entah sejak kapan
Mungkin kuasa tangan-Nya yang t'lah memahatmu disana
Mungkin sejak bunda terkasih mengandungku tuhan menyematkanmu

Logikaku menolak hipotesa hati ini
Tapi apa daya menyangkut hal ini logika tidak punya kapabilitas untuk menyimpulkan
Tapi jika kaupun meminta jawaban hakiki
Tanyakanlah pada hatimu
Karena sesungguhnya semua pertanyaan dan permasalahan kita
Jawabannya ada pada hati kita masing-masing

Arjasari, 6 Okt 2010
Kupersembahkan untuk seorang insan yang s'moga menjadi hawa dari napasku, amiennn

Jantung Hate

Teteh anu dipikadeudeuh ku aa

Teh, tikawit enjing muka ieu catetan...
Dugi siang ieu, simkuring mung tiasa huleung jentul, ras emut kana teuteupna, sorot socana, sorana, imutna, bageurna, salira kokolebatan kapiraray siang wengi

Teh, basa awal urang munggaran teupang dugi wanci ieu duka kunaon ieu hate, kapicangcang ku imut salira

Teh, salira lir ibarat prajurit siliwangi anu tos ngajamparing hate dugi kabeungkeut tali asih anu teu tiasa leupas

Teh, aa mihareup mugia salira oge gaduh rasa asih rasa heman rasa nineung rasa sono sapertos aa ka salira

Teteh anu dipikameumeut, mugia urang kapayun, tiasa ngalengkah sasarengan kana gapura kabagjaan anu janten hareupan urang duaan

Amien Ya Rabbal Alamien...

Motivation Letter (For My Friend/Sister/Brother)

Oh ya teman/sahabat/saudara/i
Saat ini mungkin hatimu sedikit kesal tercabik oleh laku teman/pasanganmu

Sungguh akupun pernah merasakan yg demikian
Butuh waktu memang untuk melaluinya

Kadang melalui sedikit perenungan
Yakinlah Tuhan sayang padamu
Tuhan tidak ingin ia bersamamu
Karena Tuhan maha tahu yang terbaik untukmu

Tuhan memperlihatkan ini bukan krn kau tak pantas untuknya
Tapi kau terlalu baik untuknya

Kau begitu baik, potensial, rupawan, sungguh sangat beruntung seseorang yang akan menjadi pendampingmu

Ketika kau menyayangkan untuk melepasnya krn latarbelakangnya, kekayaannya atau duniawi lainnya, tp yg utama lihatlah kasih sayang dan tanggung jawabnya padamu selama ini

Bila kau saat ini lelah mempertahankan/memperjuangkannya sementara ia tdk melakukan hal yg sepadan

Yakinlah kau ke depan semakin lelah dan lelah serta tergusur

Jangan menggenggam sesuatu yang mereka sendiri tidak ingin digenggam

Jangan takut krn bts umur krn Tuhan hanya memberimu satu belahan jiwa dan itu pasti krn merupakan janji dalam kitabnya

Melangkah ke depan, berikhtiar, berdo'a dan dgn campur tangannya kau akan mendapatinya

Bukan menggurui, bukan tuk mengajari, tp hanya sdikit perhatian dan kasih sayangku padamu teman/sahabat/saudara/i

Rahman 02 Nov 2010

19/11/10

Konversi Jalan Bebas Hambatan : Inovasi Baru Penataan Ruang Kota

Banyak orang berpendapat bahwa solusi terbaik untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di kawasan perkotaan adalah membangun jalan bebas hambatan. Diyakini bahwa kemacetan lalu lintas terjadi karena pertumbuhan panjang jalan kota jauh lebih lambat dibandingkan pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor. Di Jakarta, misalnya, tingkat pertumbuhan kepemilikan kendaraan adalah 9 sampai 11 persen per tahun tetapi pertumbuhan pembangunan jalan kurang dari 1 persen per tahun. Ketimpangan ini banyak diyakini sebagai penyebab semakin kronisnya masalah kemacetan di kota-kota besar termasuk di Jakarta.

Apakah pembangunan jalan bebas hambatan atau pelebaran jalan dapat mengatasi masalah lalu lintas di kawasan perkotaan? Pembangunan jalan bebas hambatan atau pelebaran jalan hanyalah memecahkan masalah kemacetan lalu lintas secara sementara. Setelah beberapa tahun, jalan bebas hambatan akan diisi oleh lalu lintas baru yang tidak akan terjadi bilamana jalan bebas hambatan tidak dibangun. Hal serupa terjadi dengan pelebaran jalan ketika jalan yang telah diperlebar tersebut akan kembali macet hanya dalam beberapa bulan. Fenomena seperti itu disebut induced demand. Karena induced demand ini, membangun jalan baru atau pelebaran jalan adalah solusi kemacetan lalu lintas yang sifatnya sementara.

Tulisan ini menjelaskan suatu inovasi baru dalam perencanaan kota yaitu konversi jalan bebas hambatan menjadi kawasan yang lebih berorientasi pejalan kaki (pedestrian-oriented areas). Berdasarkan studi kasus di beberapa kota besar dunia termasuk Paris, Milwaukee, San Franscisco dan Seoul, tulisan ini menawarkan solusi bagi pemecahan masalah transportasi kota-kota besar di Indonesia, khususnya Jakarta.

Rencana Penutupan Jalan Bebas Hambatan di Paris
Belum lama ini, walikota Paris Bertrand Delanoe mengumumkan rencana untuk melarang mobil melewati jalan bebas hambatan Paris (Paris Expressway) di pinggiran sungai Seine sepanjang 2 km antara Musee d’Orsay dan jembatan Alma. Walikota Bertrand Delanoe berpendapat bahwa rencana ini akan mengurangi polusi dan lalu lintas kendaraan bermotor dan akan memberikan kesempatan lebih bagi penduduk Paris untuk menikmati hidupnya. Di kawasan tersebut direncanakan akan dibangun beragam aktivitas outdoor, kafe, taman dan pulau terapung (floating islands).

Rencana pembangunan kawasan ini mendapatkan respon yang positif dari penduduk kota Paris. Dalam beberapa tahun terakhir ini, kawasan sepanjang 2 km ini telah menjadi kawasan bebas mobil pada setiap hari Minggu dan menjadi kawasan popular bagi penduduk Paris. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, pemerintah kota Paris telah berupaya pula untuk mengubah mentalitas penduduk kota Paris khususnya untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Pemerintah kota Paris telah giat menggalakkan penggunaan kendaraan umum termasuk tram dan bus bagi para penduduknya serta membangun jalur sepeda di berbagai ruas jalan di kota Paris. Pada bulan Juni mendatang, rencana pembangunan kawasan ini yang diperkirakan menghabiskan biaya sekitar US$ 50 juta akan dibahas oleh Dewan Kota Paris. Walikota Bertrand Delanoe berkeyakinan bahwa proyek ini akan berpengaruh banyak terhadap penataan kota Paris di tahun-tahun mendatang.

Konversi Jalan Bebas Hambatan di Milwaukee dan San Francisco
Di Amerika Serikat, terdapat paling sedikit dua kota yang telah berhasil mengkonversi jalan bebas hambatan. Kota Milwaukee, pada tahun 2002, menghancurkan jalan bebas hambatan Park East. Jalan bebas hambatan Park East telah membelah kawasan permukiman dan menjadikan kawasan ini lebih berorientasi pada kendaraan bermotor. Setelah jalan bebas hambatan Park East dihancurkan, kawasan permukiman yang terbelah dapat direstorasi kembali dan menjadi kawasan yang ramah bagi pejalan kaki. Setelah penghancuran jalan bebas hambatan Park East, beragam kegiatan ekonomi baru pun tumbuh di kawasan ini termasuk kondominium, perdagangan dan perkantoran.

Di Kota San Franscisco, bencana gempa bumi Loma Prieta pada tahun 1989 mengakibatkan rusaknya dua jalan bebas hambatan yaitu Embarcadero Freeway dan Central Freeway. Pada tahun 2002, pemerintah kota San Franscisco memutuskan untuk mengkonversi kedua jalan bebas hambatan tersebut menjadi jalan raya (boulevard) yang membuka akses bagi pejalan kaki, taman kota dan jalur sepeda. Konversi ini mengubah secara drastis kawasan pusat kota San Franscisco menjadi lebih atraktif dan menarik serta lebih ramah terhadap pejalan kaki.

Sebuah studi yang mengamati dampak konversi kedua jalan bebas hambatan ini (Cervero, Kang dan Shively 2009) menemukan bahwa perhatian yang dititikberatkan pada kualitas lingkungan dan pejalan kaki ketimbang pada pergerakan kendaraan bermotor telah memberikan keuntungan bagi kota San Franscisco tanpa mengakibatkan kerugian serius dalam kinerja transportasinya. Para peneliti tersebut menemukan bahwa pengguna jalan bebas hambatan telah beradaptasi terhadap konversi jalan bebas hambatan dengan menggunakan rute alternative, mengubah mode transportasi dan mengubah perilaku pergerakan termasuk waktu pergerakan.

Konversi Jalan Bebas Hambatan di Seoul
Jalan bebas hambatan Chonggyecheon mulai dibangun pada tahun 1955 dan selesai pada tahun 1977. Jalan bebas hambatan ini terdiri dari empat jalur sepanjang 5,8 km, dan dibangun diatas jalan raya yang menutup aliran sungai. Proyek ini dijadikan symbol modernisasi dan industrialisasi di Korea Selatan pasca perang Korea. Pada tahun 2000, kawasan Chonggyecheon dianggap sebagai kawasan industry yang padat dan paling bising di kota Seoul.

Dibawah kepemimpinan Walikota Seoul, Lee Myung-Bak, dicanangkan proyek yang menghancurkan jalan bebas hambatan Chonggyecheon, merevitalisasi kawasan sekitarnya dan memunculkan kembali aliran sungai. Selama proses penghancuran jalan bebas hambatan Chonggyecheon, pemerintah kota Seoul juga mengembangkan system transportasi umum termasuk jalur Bus Rapid Transit.

Kesuksesan restorasi kawasan Chonggyecheon membawa kebanggaan bagi masyarakat kota Seoul dan juga warga Korea Selatan. Kawasan Chonggyecheon menjadi salah satu kawasan atraksi wisata utama di kota Seoul. Tidak mengherankan, kesuksesan Walikota Lee Myung-Bak dalam merestorasi kawasan Chonggyecheon ini juga salah satu kunci keberhasilannya terpilih sebagai presiden Korea Selatan pada tahun 2007 lalu.

Penutup
Konversi jalan bebas hambatan menjadi kawasan yang ramah terhadap pejalan kaki (pedestrian-oriented areas) merupakan terobosan baru dalam perencanaan kota saat ini. Pendekatan dalam perencanaan kota saat ini mesti lebih focus kepada penduduk kota ketimbang kepada kendaraan di kota tersebut. Konversi jalan bebas hambatan ini akan lebih efektif jika diikuti dengan pengembangan system transportasi umum.
Konversi jalan bebas hambatan adalah suatu inovasi kreatif dalam perencanaan kota untuk menjawab tantangan pembangunan kota yang lebih rumit di abad ke-21 ini. Kota-kota di Indonesia, khususnya Jakarta, yang sedang mempertimbangkan untuk membangun lebih banyak jalan tol dalam kota seyogyanya belajar dari pengalaman yang terjadi di kota-kota seperti Seoul dan San Franscisco mengenai dampak negative dari pembangunan jalan bebas hambatan. Kota-kota besar di Indonesia semestinya lebih memikirkan untuk membangun system jaringan transportasi massal yang terpadu, handal, aksesibel dan terjangkau untuk mengatasi masalah transportasi kota ketimbang membangun jalan bebas hambatan baru.

(Untuk mengutip tulisan ini: Rukmana, Deden. (2010). Konversi Jalan Bebas Hambatan: Inovasi Baru Penataan Ruang Kota. Esquire Indonesia.September 2010)

Ide Pemindahan Ibukota Jakarta

Lima tahun yang lalu, saya menyiapkan tulisan untuk menanggapi pendapat Prof. Riswandha Imawan yang dimuat di Kompas tanggal 15 Agustus 2005. Beliau menyarankan untuk menyebarkan departemen keseluruh wilayah Indonesia sesuai dengan masalah yang diurus. "Misalnya, Departemen Pertambangan dan Energi direlokasi ke Timika (Papua), Departemen Kehutanan direlokasi ke Samarinda (Kaltim), Departemen Kelautan ke Ambon, Departemen Agama ke Aceh, Departemen Pendidikan Nasional keYogya, Departemen Pariwisata ke  Bali, Departemen Perdagangan ke Padang (Sumbar),dan sebagainya".

Berikut tanggapan saya terhadap tulisan Prof. Riswandha Imawan :

Menggagas Pemindahan Ibukota R.I.
Deden Rukmana
17 Agustus 2005

Beberapa waktu lalu dalam obrolan santai dengan beberapa teman Indonesia, saya sempat kemukakan ide pemindahan ibukota R.I ke luar Jakarta. Saat itu saya menggagas untuk memindahkannya ke salah satu daerah di Kalimantan bagian Timur atau Sulawesi bagian Barat. Rasional dari pemindahan ini adalah sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi Jakarta akibat urbanisasi dan ketimpangan wilayah di Indonesia akibat polarisasi perkotaan di Jawa. Derap reformasi politik serta semangat desentralisasi dan otonomi daerah juga mempengaruhi munculnya ide tersebut. Beberapa teman langsung menanggapinya dengan skeptis karena dianggapnya sebagai utopia yang tidak praktis untuk dijalankan.

Setelah membaca opini yang disampaikan oleh Riswandha Imawan (Kompas, 15 Agustus 2005), saya kembali tergugah untuk menggagaskan pemindahan ibukota R.I. ini. Dalam opini tersebut penyebaran departemen ke berbagai daerah dianggap sebagai salah satu cara untuk menumbuhkan sense of belongings and sense of responsiveness bagi rakyat Indonesia di luar Jakarta. Menurut saya ide penyebaran departemen tersebut justru kontraproduktif dalam upaya nation and character building. Sebagai alternatifnya adalah memindahkan ibukota R.I ke salah satu daerah di Indonesia bagian Tengah.
Jakarta dan Masalahnya

Peran Jakarta sebagai ibukota R.I. tidak terlepas dari proses sejarah sejak awal penjajahan Belanda dulu yang menempatkan Jakarta sebagai pusat keluar masuk barang-barang dari dan ke Indonesia. Posisi sebagai pusat distribusi ini semakin menguat dan melebar ke dominasi politik dan ekonomi terhadap daerah-daerah lainnya di Indonesia sampai saat ini.

Jakarta saat ini adalah pusat segala aspek kehidupan di Indonesia. Selain sebagai pusat pemerintahan R.I. juga sebagai pusat perdagangan, keuangan, jasa, hiburan, olahraga, budaya, transportasi, penelitian, dan juga kriminalitas termasuk korupsi. Tidaklah mengherankan dengan peran sebagai pusat berbagai aktifitas di Indonesia tersebut, Jakarta mengalami proses urbanisasi yang sangat cepat.

Metropolitan Jakarta atau Jabodetabek saat ini berpenduduk hampir mendekati 18 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk lebih dari 2.5 persen pertahun. Jumlah penduduk ini sebanyak hampir sepuluh persen total penduduk Indonesia tetapi hanya menempati 0.3 persen luas total wilayah Indonesia. Laju penduduk Jabodetabek akan terus lebih tinggi dibandingkan dengan laju penduduk Indonesia seiring dengan laju urbanisasi di Indonesia.

Permasalahan yang terkait dengan pesatnya laju urbanisasi ini terus mendera Jakarta. Kemacetan lalu lintas, pemukiman kumuh dan liar, banjir, berkembangnya sektor informal adalah bukti bahwa Jakarta tidak mampu mengimbangi derap urbanisasi yang terjadi. Berbagai kebijakan perkotaan di Jabodetabek saat ini terbukti tidak mengatasi masalah perkotaan yang muncul. Kebijakan yang ditempuh tidaklah menyentuh salah satu akar penyebab urbanisasi yaitu tingginya daya tarik Jakarta bagi kaum pendatang. Berbagai kegiatan ekonomi, budaya, sosial dan politik tetap saja terpolarisasi di Jakarta. Dominasi Jakarta terhadap daerah-daerah lainnya di Indonesia akan terus menguat bilamana tidak ada upaya untuk merelokasi salah satu atau beberapa pusat kegiatan ke luar Jakarta.

Menyebarkan Departemen atau Memindahkan Ibukota

Argumen yang disampaikan oleh Riswandha Imawan bahwa penyebaran departemen merupakan solusi untuk national and character building tidaklah tepat. Sedikitnya ada dua rasionalisasi yang dapat saya kemukakan disini.

Pertama, pilihan untuk memindahkan suatu departemen ke suatu daerah akan mendegradasi pentingnya daerah lainnya dan akan mengesankan dominasi daerah terpilih berikut aspek terkaitnya. Misalnya pemindahan Departemen Pertambangan dan Energi ke Timika akan mengurangi pentingnya Aceh sebagai produsen gas bumi. Apakah tambang di Timika dianggap lebih penting dibandingkan tambang gas bumi di Aceh? Tentu tidak. Semestinya kita menganggap bahwa semua daerah berikut dengan potensi tambangnya dianggap sama penting dalam konteks pembangunan bangsa. Dengan analogi yang serupa untuk departemen-departemen lainnya kita bisa berakhir pada pentingnya suatu lokasi terpusat untuk mewadahi berbagai departemen-departemen tersebut.

Kedua, perkembangan sarana telekomunikasi modern tidaklah cukup sebagai media untuk koordinasi. Komunikasi secara fisik dan intensif tetap diperlukan dalam koordinasi dan ini menuntut kedekatan lokasi untuk mencapai efisiensi biaya. Banyak ahli yang mengupas perkembangan teknologi komunikasi dan informasi dan pengaruhnya terhadap ruang. Graham dan Marvin (1996) menyebutkan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi akan mendesentralisasikan lokasi-lokasi produksi, pemasaran, gudang dan distribusi. Mereka akan berlokasi berjauhan dan menempati tempat yang mampu memberikan efisiensi biaya terbaik. Di lain pihak, desentralisasi lokasi-lokasi produksi menyebabkan pula sentralisasi kontrol dan fungsi pusat intelegensi pada tingkat konsentrasi yang lebih tinggi. Intensitas komunikasi dari pihak-pihak yang terkait dalam control dan pusat intelegensi ini akan meningkat dan tidak cukup difasilitasi oleh media komunikasi. Pertemuan dan koordinasi secara fisik masih mereka perlukan.

Teknologi computer grafis tiga dimensi, audioconferencing, videoconferencing berikut dengan penggunaan e-mail dan Web pages mampu memfasilitasi aktivitas ekonomi dan social dengan cara yang lebih fleksibel dan efisien. Namun semua itu belum bisa menggantikan ruang untuk mewadahi perlunya pertemuan fisik (Mitchell, 2000). Di Amerika Serikat, meningkatnya penggunaan teknologi telekomunikasi tidak menyurutkan pembangunan bangunan komersial di perkotaan. Kemudahan untuk mendownload video tidak menihilkan minat orang untuk pergi ke bioskop. Akses internet yang sangat memadai, tidak bisa menghilangkan cara lama melalui kuliah tatap muka dan digantikan dengan kuliah on-line. Pola interaksi sosial yang sudah lama dikembangkan dalam peradaban manusia masih terlampau kuat untuk diubah melalui penggunaan teknologi informasi dan telekomunikasi.

Sebagai alternatif cara untuk nation and character building bangsa Indonesia, saya gagaskan pemindahan ibukota RI dari Jakarta ke suatu daerah di kawasan Indonesia bagian Tengah. Selama ini pusat pemerintahan berada di daerah yang memiliki dominan secara ekonomi dan politik. Orang-orang yang memiliki kekuatan ekonomi dan berada di dalam pusat kekuasaan menikmati eksistensi Jakarta sebagai ibukota RI. Sementara orang-orang di luar Jakarta merasa terpinggirkan baik secara politik dan ekonomi. Inilah konsekuensi logis dari bersatunya pusat ekonomi dan pusat politik dan pemerintahan di satu lokasi.

Penutup

Dasar pemikiran untuk mengagas pemindahan ibukota RI ini tentunya berbeda dengan ide serupa beberapa tahun lalu untuk memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan Jonggol, Bogor. Ibukota RI perlu dipindahkan ke daerah yang secara geografis berada di tengah-tengah Indonesia. Studi yang mendalam tentunya diperlukan untuk menentukan lokasi yang tepat secara daya dukung fisik, sosial maupun ekonomi. Bilamana gagasan ini pun diterima diperlukan waktu panjang untuk merealisasikannya. Hanya saja ketika berimajinasi dengan gagasan ini, saya membayangkan bahwa peringatan detik-detik proklamasi ke-100 dipusatkan di Kalimantan Timur atau Sulawesi Tengah dan kehidupan sosial ekonomi dan politik masyarakat di luar Jakarta telah berubah banyak.

Menata Ulang Transportasi Jakarta

Wacana pemindahan pusat pemerintah dari Jakarta kembali mengemuka seiring dengan semakin parahnya kondisi transportasi di Jakarta. Kemacetan lalu lintas di Jakarta menjadi semakin akut dan menyengsarakan penduduknya. Beberapa pihak telah memprediksikan bahwa Jakarta akan macet total tidak lebih dari lima tahun lagi. Asumsi yang digunakan adalah pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang jauh lebih cepat dibandingkan pertambahan panjang jalan di Jakarta. Penggunaan mobil bertambah sebanyak 10 persen pertahun dan penggunaan motor bertambah sebesar 15 persen setiap tahunnya, sedangkan pertambahan panjang jalan di Jakarta hanya sebesar kurang dari 1 persen pertahun.

Pemindahan pusat pemerintah dari Jakarta dimaksudkan untuk mengurangi tekanan pertambahan penduduk Jakarta dan secara tidak langsung akan mengurangi laju penggunaan kendaraan bermotor di Jakarta. Benarkah pemindahan pusat pemerintah akan mengurangi masalah transportasi di Jakarta? Ya, tapi hanya sementara. Bilamana masalah kemacetan di Jakarta masih dilihat dari ketimpangan antara jumlah kendaraan bermotor dan panjang jalan maka masalah kemacetan tidak akan pernah bisa diatasi bahkan akan semakin parah.
Pertumbuhan penduduk yang pesat di kawasan perkotaan adalah fenomena yang terjadi secara global dan tidak hanya terjadi di Indonesia. Hal ini bukanlah sesuatu yang perlu terlalu dirisaukan melainkan perlu dilihat sebagai potensi bagi pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut. Sebagian besar metropolitan di dunia ini tidak mampu mengimbangi pertumbuhan penduduknya dengan penambahan panjang jalannya.

Pembangunan jalan bebas hambatan atau pelebaran jalan hanyalah memecahkan masalah kemacetan lalu lintas secara sementara. Setelah beberapa tahun, jalan bebas hambatan akan diisi oleh lalu lintas baru yang tidak akan terjadi bilamana jalan bebas hambatan tidak dibangun. Hal serupa terjadi dengan pelebaran jalan ketika jalan yang telah diperlebar tersebut akan kembali macet hanya dalam beberapa bulan. Fenomena seperti itu disebut induced demand. Karena induced demand ini, membangun jalan baru atau pelebaran jalan adalah solusi kemacetan lalu lintas yang sifatnya sementara.

Transportasi Massal
Danang Parikesit (Kompas, 17 September 2010) memberikan poin penting dalam pengembangan MRT (mass rapid transit) untuk mengatasi masalah kemacetan di Jakarta. Dilaporkan bahwa pembangunan fase pertama MRT Jakarta akan dimulai tahun depan dan mulai beroperasi pada tahun 2016. Untuk mengoptimalkan MRT Jakarta disarankan dikembangkannya bisnis properti seperti fasilitas perkantoran dan pusat ekonomi baru di sekitar stasiun seperti terjadi di Hongkong, Singapore, Tokyo, Seoul dan Taipeh.

Pengembangan MRT ini yang memakan biaya sebesar Rp. 1 trilliun per kilometer dengan dana pinjaman Pemerintah Jepang diarahkan untuk mampu menampung perjalanan penumpang di wilayah Jabodetabek yang mencapai jumlah 40 juta per hari. Target untuk menampung sebanyak 6-8 persen dari seluruh jumlah perjalanan penumpang di wilayah Jabotabek perlu ditingkatkan.

Perubahan Fundamental
Masalah kemacetan di Jakarta tidak akan pernah bisa diatasi dengan solusi yang murah yang berjangka pendek. Pembangunan MRT yang berbiaya trilliunan rupiah adalah pendekatan fundamental yang mutlak perlu dilakukan untuk mengatasi masalah kemacetan di Jakarta. Terdapat dua hal mendasar lainnya yang perlu dilakukan oleh Pemerintah DKI. Pertama, memadukan koridor MRT dengan moda transportasi umum lainnya yang sudah berkembang saat ini termasuk busway, metromini, kopaja, angkot, bis kota, dan mikrolet. Moda transportasi umum ini perlu terus dikembangkan kehandalannya, aksesibilitasnya dan keterjangkauan bagi seluruh lapisan masyarakat di kawasan Jabodetabek. Perbaikan dan pengembangan transportasi umum di Jakarta tidak bisa dipisahkan dari kawasan hinterland termasuk Tangerang, Bekasi, Depok dan Bogor.

Hal kedua yang perlu dilakukan adalah mengkonversi pengguna kendaraan bermotor pribadi termasuk mobil pribadi dan motor menjadi pengguna transportasi umum dan/atau MRT. Ini akan menjadi kunci kesuksesan kota Jakarta dalam mengatasi masalah kemacetan. Tanpa adanya konversi pengguna kendaraan bermotor pribadi ke moda transportasi umum atau MRT, masalah kemacetan di Jakarta tidak akan pernah teratasi dan pengembangan MRT Jakarta akan menjadi investasi yang tidak efektif.

Konversi ini adalah hal yang tidak mudah dilakukan dan memerlukan perencanaan yang matang dan komprehensif serta melibatkan berbagai stakeholder dalam penyusunan rencananya. Pengalaman dari pengoperasian busway dalam beberapa tahun terakhir ini perlu dijadikan pelajaran penting dalam upaya untuk mengkonversi pengguna kendaraan bermotor pribadi ke moda transportasi umum. “Kesengsaraan” pengguna kendaraan bermotor pribadi akibat kemacetan lalu lintas di Jakarta bisa dianggap sebagai modal besar untuk mengkonversikan mereka menjadi pengguna moda transportasi umum. Tidak perlu lagi “memanjakan” mereka melalui pembangunan jalan tol baru atau penggunaan lajur busway untuk kendaraan bermotor pribadi.

Mengkonversi pengguna kendaraan bermotor pribadi ke MRT Jakarta ataupun moda transportasi umum lainnya akan lebih mudah jika mereka telah lama merasakan ketidaknyamanan berkendaraan akibat kemacetan lalu lintas dibandingkan jika para pengguna kendaraan bermotor pribadi masih merasa nyaman menggunakan kendaraannya. Bilamana kita menggunakan skenario seperti ini maka kemacetan akut di Jakarta selama ini dapat menjadi modal bagi pengembangan MRT Jakarta yang efektif di masa mendatang.

(Rukmana, Deden. Menata Ulang Transportasi Jakarta. Gatra Cars Plus. October-November 2010, hal 22-23)

Urbanisasi, Kawasan Kumuh dan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan

Hasil Sensus 2010 menunjukkan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237,7 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,49 persen per tahun selama sepuluh tahun terakhir. Hampir separuh penduduk Indonesia tinggal di kawasan perkotaan. Biro Pusat Statistik memproyeksikan persentase penduduk di wilayah perkotaan akan mencapai 68 persen pada tahun 2025.

Laju pertumbuhan penduduk perkotaan selalu lebih tinggi dibandingkan penduduk pedesaan sejak tahun 1950. Sementara itu, laju pertumbuhan penduduk pedesaan mengalami terus penurunan sejak tahun 1995.Tingginya laju pertumbuhan penduduk perkotaan atau urbanisasi ini tentunya merupakan tantangan besar bagi pembangunan perkotaan di Indonesia. Ketidaksiapan pemerintah kota untuk mengantisipasi tingginya laju urbanisasi ini akan menimbulkan beragam masalah perkotaan.
Kawasan Jabodetabek dengan jumlah penduduk sebanyak 18,4 juta jiwa merupakan kawasan perkotaan terbesar di Indonesia dan ke-enam terbesar di dunia yang sarat dengan masalah perkotaan. Tulisan ini akan mengulas dua masalah perkotaan terkait dengan tingginya laju urbanisasi di kawasan Jabodetabek yaitu berkembangnya kawasan kumuh dan berkurangnya ruang terbuka hijau.

Bertambahnya Kawasan Kumuh dan Peremajaan Kota
Biro Pusat Statistik melaporkan pada tahun 2010 penduduk miskin di perkotaan mencapai 9.87 persen. Kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial di Indonesia yang tidak mudah untuk diatasi. Di kawasan perkotaan, masalah kemiskinan sering kali dikaitkan dengan permukiman kumuh dimana penduduk miskin tinggal. Permukiman kumuh ditemui hampir di setiap sudut kota di Indonesia. Keluhan yang paling sering disampaikan mengenai permukiman kumuh tersebut adalah buruknya kualitas lingkungan yang dianggap sebagai bagian kota yang mesti disingkirkan.
 
Harian ini (14 Oktober 2010) melaporkan luas kawasan kumuh di kawasan Jabodetabek pada tahun 2009 mencapai 20.000 ha. Luas kawasan kumuh di Jabodetabek mencapai 35 persen dari total kawasan kumuh di Indonesia. Kawasan kumuh ini akan terus bertambah seiring dengan tingginya laju urbanisasi di kawasan Jabodetabek. Pendekatan konvensional yang paling populer adalah menggusur permukiman kumuh dan kemudian diganti oleh kegiatan perkotaan lainnya yang dianggap lebih bermartabat. Cara seperti ini yang sering disebut pula sebagai peremajaan kota bukanlah cara yang berkelanjutan untuk menghilangkan kemiskinan dari perkotaan.
 
Kemiskinan dan kualitas lingkungan yang rendah adalah hal yang mesti dihilangkan tetapi tidak dengan menggusur masyarakat telah bermukim lama di lokasi tersebut. Menggusur adalah hanya sekedar memindahkan kemiskinan dari lokasi lama ke lokasi baru dan kemiskinan tidak berkurang. Bagi orang yang tergusur malahan penggusuran ini akan semakin menyulitkan kehidupan mereka karena mereka mesti beradaptasi dengan lokasi permukimannya yang baru. Peremajaan kota ini menciptakan kondisi fisik perkotaan yang lebih baik tetapi sarat dengan masalah sosial. Kemiskinan hanya berpindah saja dan masyarakat miskin yang tergusur semakin sulit untuk keluar dari kemiskinan karena akses mereka terhadap pekerjaan semakin sulit.
 
Berkurangnya Ruang Terbuka Hijau
Tingginya laju urbanisasi juga menyebabkan tingginya permintaan terhadap lahan untuk menampung kegiatan perkotaan termasuk perkantoran, jasa, perdagangan, hotel dan perumahan. Kawasan ruang terbuka hijau merupakan “korban” dari konversi lahan untuk kegiatan perkotaan. Pada tahun 1965, kawasan ruang terbuka hijau mencakup lebih dari 35% dari luas wilayah Jakarta dan jumlah ini terus berkurang seiring dengan tuntutan ruang akibat laju urbanisasi. Pada saat ini, kawasan ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta adalah sekitar 9.3% dari luas wilayah Jakarta.

Rencana Induk Jakarta 1965-1985 menetapkan luas RTH sebanyak 27,6 persen dari luas total DKI Jakarta. Persentase ini menurun terus pada rencana tata ruang berikutnya, yaitu Rencana Umum Tata Ruang Jakarta 1985-2005 (26.1 persen) and Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2000-2010 (13,9 persen). Penurunan luas RTH dalam ketiga rencana tata ruang kota Jakarta tersebut menunjukkan ketidakmampuan pemerintah DKI Jakarta untuk mempertahankan RTH sebagai komponen penting dalam ruang kota. Hal ini diakibatkan lemahnya penegakan rencana tata ruang dan tingginya permintaan lahan perkotaan untuk mewadahi tingginya laju urbanisasi.

Konversi RTH dan kawasan resapan resapan air menjadi kawasan terbangun seringkali disebut sebagai penyebab terjadinya banjir yang setiap tahun melanda Jakarta. Berkurangnya RTH juga ditengarai yang menyebabkan terjadinya penurunan permukaan tanah (land subsidence) di Jakarta. Mengingat Jakarta perlu segera membenahi dan mengembalikan RTH. Proporsi RTH di Jakarta saat ini masih jauh dari target RTH menurut RTRW 2010 (13.94 persen) atau bahkan target yang ditetapkan dalam UU Penataan Ruang 26/2007 sebesar 30 persen dari total wilayah.

Menuju Pembangunan Kota yang Berkelanjutan
Urbanisasi adalah penggerak roda perekonomian dan pembangunan kota. Tingginya laju urbanisasi tidak mesti menyebabkan masalah bagi pemerintah kota. Kondisi tersebut tidak terjadi di Jabodetabek mengingat tingginya urbanisasi ini disebabkan pula oleh migrasi penduduk miskin pedesaan di Jawa ke Jabodetabek. Biro Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk miskin di pedesaan sebanyak 16.56 persen pada tahun 2010. Angka ini hampir dua kali lipat jumlah penduduk miskin di perkotaan.

Kawasan perkotaan dijadikan tujuan bagi para penduduk miskin pedesaan di Jawa untuk keluar dari kemiskinan. Sementara itu, pemerintah kota tidak siap untuk menampung para migran dari pedesaan ini. Hal inilah yang memacu perkembangan kawasan kumuh di perkotaan khususnya di Jabodetabek. Jalan terbaik untuk mengerem perkembangan kawasan kumuh di perkotaan adalah menggalakkan pembangunan di pedesaan misalnya pengembangan infrastruktur untuk meningkatkan produktivitas petani di pedesaan. Meningkatnya produktivitas pertanian di pedesaan akan meningkatkan kesejahteraan penduduk pedesaan dan secara tidak langsung akan mengerem laju migrasi penduduk desa ke kota.

Cara untuk mengatasi kawasan kumuh di kawasan perkotaan adalah tidak dengan menggusurnya. Penggusuran hanyalah menciptakan masalah sosial perkotaan yang semakin akut dan pelik. Penggusuran atau sering diistilahkan sebagai peremajaan kota adalah cara yang tidak berkelanjutan dalam mengatasi kemiskinan. Masyarakat miskin adalah salah satu komponen dalam komunitas perkotaan yang mesti diberdayakan dan bukannya digusur. Solusi yang berkelanjutan untuk mengatasi kemiskinan dan permukiman kumuh di perkotaan adalah pemberdayaan masyarakat miskin dan bukanlah penggusuran. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Winayanti dan Lang (2004) dan Rukmana (2007) menunjukkan bahwa perbaikan kawasan kumuh melalui pendekatan berbasis masyarakat (community-based development) dapat meningkatkan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di kawasan kumuh.

Mengenai berkurangnya RTH di Jakarta, Pemerintah DKI Jakarta mesti mengembalikan RTH yang telah terkonversi menjadi kawasan terbangun. Apa yang telah dilakukan oleh Pemda DKI dengan mengembalikan fungsi RTH pada 27 pom bensin pada akhir tahun 2009 lalu adalah langkah yang sangat patut dihargai dan terus dilanjutkan di masa-masa mendatang. RTH merupakan komponen penting dalam ruang kota yang dapat mencegah beragam bencana seperti banjir ataupun penurunan permukaan tanah.

Alternatif lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingginya urbanisasi di Jabodetabek adalah mengembangkan kawasan perkotaan lainnya di Indonesia untuk mengimbangi daya tarik Jabodetabek. Perlu terdapat kawasan perkotaan lainnya yang dapat menjadi penyeimbang Jabodetabek. Wacana pemindahan ibukota keluar Jakarta adalah juga salah satu alternatif penting yang perlu dipertimbangkan untuk mengurangi urbanisasi di Jakarta dan sekitarnya.

(Rukmana, Deden. Urbanisasi, Kawasan Kumuh dan Ruang Terbuka Hijau di Perkotaan. Suara Pembaruan.19 Oktober 2010)